Aku kembali….

March 10th, 2009 by loveismisery

Bertanggal 4 Maret 2009

Saat hari bernama Rabu…

Bumi serasa lambat berputar…

Sebenarnya aku merasa sangat tidak enak hati harus kembali kesini dengan rasa marah yang sama. Rasa marah yang berhasil kuredam dengan sekam sepi hingga marah itu merasa tidak lagi perlu luapkan diri secara berlebihan. Aku marah dengan fakta. Marah dengan sebuah kondisi yang kuciptakan sendiri. Mungkin lebih benar jika marah itu diberi nama kecewa berlebih. Dan aku tak kunjung jumpai obat sembuhi diri. Hingga aku tak lagi punya pilihan selain menyekap diri dalam sendiri sambil kembali mencari- cari keindahan sepi itu. Mungkin keindahan sepi ternyata sedang bersembunyi di balik himpitan dinding oleh almari. Atau mungkin saja keindahan itu sedang tertindih sprei yang rapi rangkuli tempat tidur. Bahkan mungkin saja sebenarnya keindahan itu ternyata sedang berusaha melepaskan diri dari beberapa pasang baju di gantungan. Maka aku akan membantunya kembali rasai nyamannya kebebasan. Lalu kita bisa bersahabat. Lalu kita bisa sama- sama merasa bahagia dalam sepi. Tanpa kata. Karena meski berdua, kami tak berbahasa sama. Maka kami akan berusaha rumuskan bahasa agar bisa saling berkata lalu memahami.

Pernah juga aku berusaha alihkan kecewa dengan cara bertandang sopan ke masa lalu. Kecewa itu sedikit menyingkir. Mungkin karena ada banyak bahagia yang menyembul hingga akhirnya kecewa merasa tak lagi perlu hinggapi nyawaku. Dan aku benar- benar merasa sedang menembus detak waktu yang salah sekaligus mencandukan. Kelanjutannya bisalah ditebak. Benar! Aku tak mau lagi lepaskan tanganku yang terlanjur erat sentuh masa lalu. Lalu ternyata aku terbangun. Aku tersadar bahwa aku sedang bermimpi nyata. Nyata menyentuh erat masa lalu dalam sebuah mimpi tanpa terlelap sejenakpun.

Aku benar takut. Merasa sangat terselimuti oleh ketakutan yang garang menyerang jiwaku yang memang sedang menolak ditemanki siapapun. Aku mau merasai semuanya sendiri. Jika ada sebuah nyawa ingin menemani, aku akan secara formalitas mengiyakan meski nyata- nyata aku akan sembunyi darinya. Agar aku bertemu dengan sendiri lagi. Bahkan kini aku takut bermimpi. Karena mimpi hanya akan beri aku bentuk kesengsaraan yang lain. Mungkin akan tampak sebagai senyum manis meski sebenarnya itu hanyalah topeng nyata sebuah rintihan nyeri nyawaku. Aku tak mau lagi merasa nyeri hingga harus merintih seperti sekarang ini. Aku sungguh merasa begitu lelah. Lelah rasai bosan yang tak pernah merasa bosan merajam jiwaku yang dianggap sebagai pezinah. Padahal aku seorang bukan. Aku benar bukan pezinah!

Larut secara ikhlas lalu tergerus masa hingga jadi cairan sejarah. Mungkin itulah cita- cita terbesarku. Karena nyawa letih sepertiku takkan bisa lagi menempuh waktu yang kian menua. Menyerah pada waktu lalu bermetamorfosa menjadi sejarah.

Aku menghela nafas sedalam- dalamnya. Sedikit lega…

Ya ampun…waktu begitu renta hingga berjalan tanpa kecepatan. Detik- detik langkahnya berganti tanpa rasa. Begitu lambat hingga aku tak lagi merasa tertantang untuk berpacu mencipta kenangan setak terhitung mungkin. Sia- sia jika saja aku memaksa melukis kenangan itu. Karena akan menjadi sangat terlalu banyak. Langkah renta waktu ini kubiarkan begitu saja.

Apalagi yang bisa dirintihkan? Tak ada lagi. Semua sudah pernah kurintihkan. Hatiku masih belum sanggup menantang maut dapati rintihan lain. Maka bisa dikatakan semuanya sudah lengkap terintihkan.

Telepon genggam hitam ini tiba- tiba dideringkan seseorang yang jauh dari penglihatanku. Belum sempat terangkat. Mati…

Nyaman sekali ternyata jika kelopak mata mengatup. Karena hari akan terasa bagai malam yang mampu sembuyikan apapun, termasuk kesepian diri. Tak lama mengatup. Tak boleh terlalu lama mengatup, memang.

Sebentar….

Kopi legam ini kuhisap sejenak lalu kulumat beberapa bagian. Nikmat. Lalu kuulang lagi. Sampai sebagian besar haus ini terlumat…

Beberapa langkah renta waktu aku menanti sesuatu yang katanya akan hadir. Aku masih menunggunya.

Beberapa rentang waktu aku mendapat sebentuk hiburan dari nyawa lain. Terimakasih untuknya…

Kini hatiku terasa tersihir secara sukarela oleh nyawa itu. Aku merasa sedikit tenang dan berhenti mengumpat. Dia bukan siapa- siapa tapi bisa juga memberi sedikit udara harum bagi nyawaku yang sedang meranggas kering. Nyawaku mingkin sedang bermusim kemarau hingga tanah jiwaku banyak yang retak, hutan nafasku banyak meranggas pun sungai birahiku sedang mengering dan mengerontang. Mimpi- mimpiku sedang terbakar habis oleh keringnya udara jiwa. Lalu asap- asapnya membumbung tinggi hingga kemudian menutup rapat langit manusiawiku dari dunia luar yang begitu berwarni. Angin lemas sesekali datang luapkan marahnya oleh suhu yang luar biasa panas. Retakan tanah itu semakin meluas hingga bersatu dengan sungai tanpa meninggalkan setitik perbedaan. Disinilah sungai dan tanah seumpama dua insan yang sedang melumerkan birahi. Begitu menyatu dalam semua rasanya.

Cairan kopi legam itu telah total terhisap habis oleh haus. Menyisakan beberapa bagian sisa serupa tanah basah. Kini cangkir besar berbahan keramik ini bisa kembali memutih. Tak lagi terdominasi warna oleh si kopi yang kepekatanannya mengalahkan semua bentuk kecerahan. Mungkin sekaranglah masa kebebasan bagi cangkir yang setia ini. Motif tulip orange cangkir itu terwarna semakin orange. Terlihat berseri. Aku turut bahagia buat cangkir merdeka itu.

Bagaimana denganku? Apa aku merdeka juga seperti sang cangkir? Hampir! Karena hari akan segera gelap. Dan gelaplah masa merdekaku. Dimana aku bisa merasa tersembuyi tanpa harus bersusah payah menyembunyikan diri. Aman terasanya…

Berdiri sejenak ditepi jendela. Menyadari segarnya cuaca hari ini. Embun sore seakan mencair tersulut mentari yang meski meredup namun tetap memendam kobar. Angin kanak- kanak bermain- main riang bersama pucuk dedaunan. Tertawa renyah meski masih juga luput dari pendengaranku. Dedaunan terlihat geli tergelitik angin. Tubuhnya berayun gemulai bagai pementas sandiwara diatas panggung. Setiap gerakannya adalah pusat perhatian bagi semua penikmat alam. Hijau itu tersenyum begitu manis mendengar tepukan tangan manusia yang merelakan sekejap waktunya untuk amati indahnya sore. Seperti aku yang selalu punya masa untuk mematai setiap pergantian waktu.

Para tetangga terdengar begitu sibuk rampungkan tugas yang tertunda. Mungkin sebagian dari mereka memandikan si buah hati. Ada juga yang bersiap tunaikan sholat sore. Beberapa tetangga masih santai melempar kata sambil bersihkan halaman rumah. Anak- anak SD merasa sudah waktunya berangkat les atau mengaji di langgar dekat rumah. Sore rasanya begitu lunak. Nikmat bila dirasai dengan segenap rasa yang tersisa…

Letihku tiba- tiba mengabur entah menuju mana. Dan akupun enggan menggapainya kembali. Biarkan saja. Toh aku tak pernah memaksanya pergi. Rasaku sedang nyaman. Karena sore yang lembut. Sore yang melunak. Sore yang menentramkan…

Aku mau sholat sore dulu…

Semoga aku bisa kembali membawa kata untuk dituang kedalam gerabah isi hati ini…

Doakan aku tak lupa mendoa…

Beberapa kala berselang hingga kini aku punya masa untuk lukiskan sisa hari dengan kanvas kata. Sore sudah berganti nama. Kini menjadi berpanggilan petang dan dalam waktu sebentar akan bernama malam. Dan kali ini petang datang beserta hujan. Air berjingkat cepat membasuh semua selimut bumi. Langitpun seakan kedinginan hingga membujuk awan untuk jadi selimutnya. Sekarang yang terlihat adalah kekelaman payung bumi itu. Betapa kelam payung alam itu hingga tak lagi mampu lindungi bumi dari hujan musim ini. Semua kini basah.

Malam akan segera menyulam sisa hari ini. Datang sebagai penutup yang juga bertugas mengatupkan kelopak- kelopak mata manusia. Malam bertandang sambil tiupkan pucuk- pucuk harapan tentang esok hari. Tentang bangunnya mentari pagi. Tentang hangatnya sebuah pagi. Tentang mekarnya embun harapan. Tentang mahirnya alam mencipta keindahan jiwa. Tentang cerahnya warna dunia. Tentang…

Hatiku kini berseri. Mungkin kebasahan alam ini menyalurkan energi baru hingga aku kembali punya berani untuk tersenyum bahagia. Hati ini terasa begitu sejuk. Efek suara air yang berisik itupun tak berdaya mengubah susunan pola hatiku yang sedang cerah sekarang. Bahkan temaramnya hari masih saja kirimkan segenggam kobar tuk terus terangkan jiwa. Aku bahagia….

5:59

Terimakasih Sore…

Surat untuk sahabat lama, Bayu…

March 10th, 2009 by loveismisery

Mojokerto

Tertanggal 6 Maret 2009

Pada sebuah Jum’at yang terasa begitu kuat memberi rasa gerah…

Untuk seorang Nur Bayu Wijayaningsih…

Apa kabar, bagian dari masa lalu? Kini aku benar- benar percaya akan kekuatan sebuah ingatan. Ingatanlah yang selama ini memasungku dalam bayangan tentang indahnya masa lalu. Aku terus tersenyum bahagia, manis dan lepas bersama semua yang sempat aku muliki dimasa sebelum kini. Membaca surat dari pada sahabat. Menyentuh bingkai kenangan yang masih kuat tertambat di hati. Mengurai isi rasa untuk kembali menikmati keindahan masa lalu. Tapi sayangnya, aku harus kembali tersentuh oleh kenyataan bahwa semua yang sedang aku rindui telah tertinggal pada sekatan hati yang lalu. Kini semuanya sudah begitu berubah. Para sahabat telah entah dimana dan dengan perasaan seperti apa. Yang seringkali aku coba cari jawabannya adalah, apakah mereka (juga kamu) merindui masa- masa indah yang terlewati itu? Saat Malang dan masa mudah masih jadi bagian nafas kita. Saat emosi dan persahabatan adalah warna utama nyata kita. Juga, saat kampus adalah selalu tujuan kita.

Kini semua sudah terlempar lalu menikmati jenis kehidupan lain. Kita sudah sama- sama mengetuk pintu bernama masa depan lalu duduk sejenak di sofa mimpi sambil menanti tangan seorang pasangan jiwa untuk meraih kita dan mengajak kita berlalu bersama. Kita bukan lagi kumpulan gadis muda yang sedang resah oleh cinta dan patah hati oleh kecewa. Kita kini adalah seorang wanita yang hidup dan menghirup udara dewasa. Udara yang menyuguhi kita dengan tanggang jawab dan keharusan mencari jalan sendiri atas semua yang bernama masalah.

Bahagiakah kamu sekarang, Bayu?

Semanis apa senyummu sekarang?

Semerekah apa bunga hatimu?

Pernahkah kamu merindui masa lalu?

Masa disaat semua masih tidak seperti masa sekarang?

Masa dimana kita sedang asyik mencari apa yang sekarang kita dapati?

Masa kita bisa bersama- sama mengenggam mimpi?

Jika pernah, sebesar apa rasa rindumu itu?

Siang ini begitu gerah. Matahari sedang begitu patuh jalankan wajibnya. Beberapa tumpuk benda masa lalu tiba- tiba menarik perhatianku. Surat. Foto- foto. Buku- buku. Lengkap dengan video rekaman hidup dulu yang siap diputar ulang oleh ingatan. Aku sedang begitu merindui masa bernama dua ribu satu, dua ribu dua, dua ribu tiga, dua ribu empat dan dua ribu lima. Begitu ingin merasai kembali melalui semua yang bisa mengingatkanku akan masa itu. Melalui setumpuk surat yang kembali aku kenali. Melalui beberapa lembar foto yang aku jabar kembali. Melalui semilir rasa yang aku pinjam dari masa lalu. Dan sekali lagi, aku kecewa oleh kenyataan bahwa masa lalu tak mungkin bisa kembali ternikmati. Bahwa mungkin hanya hati dan rasaku saja yang sedang sesenggukan mengurai masa. Mungkin semua bagian masa laluku, seperti juga kamu, sedang tersenyum begitu ceria dan sama sekali tak pernah mau mengingat masa sebelum.

Malang

Kertoasri 1

Bapak dan ibu Jono

Mita, lengkap dengan porsi makan jumbonya

Aku, dengan lembar- lembar novel dan teks untuk diterjemahkan

Ngrumpi sampai tengah malam di kamarku sambil membersihkan wajah dengan Ponds warna pink

Lalapan ayam yang hanya bernilai Rp.2500 tapi bisa bikin begitu kenyang

Tanda tanganmu yang pernah kubilang seperti tulisan “Boys two men”

Sibuk membuat keripik sukun sendiri

Masak mie pedes malam – malam

Nonton tv hanya sampai jam 9 malam

Mewarnai sirip- sirip ikan dan menghafal teknik penangkapan ikan yang kubilang pastinya harus dimulai dengan kata “Bismillah”

Belanja sembako di warung bu Nik

Sardo swalayan depan gang

Soto dan ayam bakar Lampung di depan Sardo

Warung Kita depan kosan

Jalan- jalan ke kota

Masih ingatkah kamu dengan beberapa utas ingatan tentang masa lalu itu?

Waktu memang akan terus memaju. Tak pernah sekalipun mengarah kembali ke belakang. Lalu aku mulai menanya: Kenapa perasaan tak memiliki sifat yang sama dengan waktu? Kenapa hati masih bisa dengan leluasa mengutak- atik masa lalu?

Banyak sekali yang sudah berubah, memang. Aku sudah mengikatkan hati pada seorang Sofie Sembiring. Mita juga sudah menghentikan pencariannya atas cinta pada hati seorang Pramudia. Pun kamu sudah berjanji berbahagia bersama suami juga the baby (btw, siapa namanya ya?). Malang sekarang juga sudah tak lagi nyaman seperti masa kejayaan kita dulu. Malang kini jadi milik orang lain yang usianya sama dengan kita kala itu. Malang tak lagi bisa setia pada kita. Atau sebenarnya kita yang meninggalkan Malang hingga dia merasa tak ada gunanya terus setia pada kita. Mungkin yang benar adalah bahwa akulah yang salah karena telah berharap Malang akan tetap setia.

Aku sekarang tinggal di Mojokerto sedangkan suamiku kerja di Kediri. Aku dan dia seperti pacaran dulu, yang hanya ketemu saat weekend. Masih belum punya momongan, meski sudah sangat mengharapkan. Sedangkan Mita dan suami sedang asyik menikmati Kediri. Mungkin mereka akan selamanya disana. Masih belum punya momongan juga sepertiku. Aku dan Mita punya beda alasan. Aku karena mungkin masih belum dikasih. Sedangkan Mita yang memang sedang penuhi janji pada orang tuanya untuk menunda kehamilan dan fokus pada upaya memantapkan perekonomian keluarga barunya. Well, kami semua disini tampak lengkap dengan masing- masing pendamping. Namun, tak jarang kami bertemu untuk menumpahkan kecewa yang masih juga tertahan di hati. Kecewa terhadap apapun…

Kaos garis- garis yang dulu kita beli kembar di ITC Cipulir masih kupakai hingga sekarang. Itu artinya aku masih tak rela kehilangan kenangan. Itu juga bisa diartikan porsi tubuhku sekarang masih sama dengan di tahun 2004 saat kita membelinya di Cipulir. Terimakasih banyak untuk kenangan itu…

Bayu…

Foto kita di Blok M kala itu juga masih aku pasang di tembok kamar. Pasti kamu bertanya, Loh..foto yang mana sie?

Baiklah. Sampaikan salamku buat suami dan buah hati kalian berdua. Juga buat Bapak dan Ibumu. Terimakasih atas semua. Aku benar- benar merindui masaku di Jakarta. Termasuk merepotkan keluargamu saat aku dan kolega kampusku berbondong- bondong menginap di rumahmu pada malam sebelum tes Deplu 2005. Brian dan Yiyik sudah menikah. Brian kini di Ohia, USA menikmati beasiswa S2 disana sedangkan Yiyik kerja di Jakarta. Hedy juga sudah menikah beberapa hari setelah pernikahan Mita Pram (Desember 2008). Sandra juga sudah lebih dari 2 tahun yang lalu mengakhiri masa lajangnya. Teman- temanku yang dulu merepotkan sudah menemukan akhir bahagianya sendiri.

Jaga diri baik- baik.

Jangan lupa simpan kenangan kita dulu jika kamu berkenan.

Balas lukisan kata ini jika kamu sempat.

Dan aku berdoa semoga kamu sempat.

Salam buat semua…

Citra Mahmudah

Cimada

Sore…

March 4th, 2009 by loveismisery

Mojokerto

12 Februari 2009

Berpijak pada sebuah Jum’at

 

Mentari sedang beranjak redup. Bersiap diri untuk mati suri dan mewakilkan diri pada bulan atau mungkin bintang yang siap bertandang di indra manusia. Malam siap dominasi hari. Memang begitulah lingkaran alam. Terus menggelinding meski dengan arena tanding yang sama dan penonton yang juga tak pernah berubah. Udara sore ini begitu jinak hingga aku lebih memilih membuka panca indra demi nikmati detik hari. Angin sore juga merasa harus pamer kemesraan dengan para flora. Saling bertautan, lahirkan gerakan lemah pada semua yang dicumbuinya. Simbol kenikmatan, mungkin. Langit sore ini tak begitu cerah. Pun tak terlalu terlihat lelah meski sudah entah sejak kapan payungi bumi. Yang jelas langit itupun enak dilihat. Mendung yang sedikit gelap datang bertandang karena mungkin merasa diundang oleh musim yang kala ini bernama penghujan. Jika aku boleh mereka dan mencoba sedikit sok tahu, mungkin mendung itu merasa punya kewajiban datang sore ini. Maka secara keseluruhan, alam sore ini terasa begitu manis, nikmat dan gurih buat dinikmati. Percayalah padaku…

Pandanganku sedikit kebingungan. Banyak yang bisa dilihat. Makanya gagal jatuhkan pilihan akan setia pada yang mana. Pada langitkah? Jajaran genteng tetangga yang terlihat begitu rapi (karena aku di balkon rumah)? Rak buku yang sedang aku hadapikah? Cermin lemari yang sedang pantulkan bayangankukah? Atau kardus TV yang terlokasi di sebelah lemarikah? Baiklah, aku putuskan untuk setia pada layar ini saja. Agar aku bisa terus rekam sore ini dalam kata. Supaya suatu waktu nanti aku bisa membaca kembali kemanisan, kenikmatan dan kegurihan sore ini.

 Cahaya mentari mulai terusir waktu. Gelap porsi mini sedang datangi hari. Lalu aku berdiri sejenak demi mencari tombol lampu bantu. Agar gelap tidak merasa terlalu dominan. Agar mata tetap merasa nyaman. Agar PLN juga bisa mengirim tagihan listrik bulanan. Agar aku juga sama dengan para tetangga yang juga butuh penerangan…

Mataku terasa sedikit perih. Badanku terasa terlalu banyak bercanda dengan angin yang tak pernah punya rasa letih. Hidungku mulai merintih. Salahku juga karena terlalu lama duduk di balkon ini. Aku mengantuk tapi tak mungkin bisa temui lelap karena hari sedang meranum hingga aku harus menunggu sampai hari mematangkan diri dulu. Kata orang Jawa, tak baik tidur saat menjelang Maghrib karena itulah saat setang keluar untuk berpetualang. Bisa bikin mimpi buruk, kata mereka. Dan aku percaya meraka. Bukan karena aku jenis manusia pengikut budaya kolot nenek moyang, tapi karena aku pernah suatu kali di masa lalu terbangun dengan keringat takut saat memaksa terlelap di hampir Maghrib.

Adzan akhirnya menyapa pendengaran. Lega rasanya. Bukan karena setelah ini aku bisa langsung berlayar di negeri mimpi melainkan karena hari telah bernama malam. Dan aku suka malam. Dan aku mencintai malam. Bahkan aku mengagumi malam. Sama dengan rasa suka, cinta dan kagumku oleh hujan. Sudah sifat bawaan jika aku adalah manusia pecinta malam dan hujan.

Bagiku malam adalah satu- satunya sahabat paling karib. Selalu memberiku sempat untuk rasai nyaman dengan kadar tinggi. Bisa sembuyikan apapun yang tidak berkenan kita bagi dengan yang lain.

Sebentar. Aku minta waktu tunaikan wajib dulu. Sebentar aku pasti akan kembali disini. Masuk dalam dunia kata. Mengurung diri sambil nikmati malam. Rehat barang beberapa menit.

Maaf. Maaf atas kealpaanku. Maaf atas ketidakmampuannku dalam penuhi kata bernama janji. Maaf karena rehat yang aku janjikan hanya beberapa menit ternyata terjalani hingga kemudian mencapai beberapa hari. Raga dan jiwaku kala itu terasa agak enggan mengulas sore itu. Bukan karena sore itu kurang indah hingga aku tak lagi mampu ungkapkannya dalam bentuk kata, tapi karena aku terlanjur merasa lelah dan merasa tak mungkin mampu mencetak rasa dalam kata. Itu saja alasannya.

Hingga hari secara otomatis bergulir nama. Aku kini bertemu dengan Senin kembali. Senin yang bertanggal 16 Februari 2009. Dan seperti biasa, aku kembali menghamba disini karena merana oleh kebosanan. Merana oleh kesenggangan yang bagiku sangat kurang menantang. Aku tidak suka.

Beberapa hari yang lalu suatu keironisan terjadi. Berada dekat denganku. Sebuah hari yang dinobatkan oleh sebagian besar manusia bumi sebagai hari kasih sayang. Sesuai dengan namanya, semua manusia merasa harus berlomba dengan sesamanya untuk merayakan dan berkasih sesayang mungkin, juga, kepada sesamanya. Coklat, merah muda, bunga, boneka I LOVE U, kue bentuk hati dan semua perlambang hari kasih sayang terasa begitu dimanja oleh manusia. Dielu- elukan. Dicari- cari untuk kemudian berakhir di tangan dan hati orang yang disayang. Bisa jadi pacar, saudara, sahabat atau hanya sekedar teman, orang tua atau siapapun yang dikasihi juga disayangi (mungkin hanya di hari itu saja). Orang bilang hari ini bumi berganti warna, jadi merah muda. Kata mereka. Tapi mungkin aku buta warna hingga tak punya daya melihat perbedaan warna bumi seperti yang mereka- mereka kata. Tapi apa mungkin ada manusia yang buta warnanya tak bisa bedakan warna merah muda? Ada! Dan itulah saya. Bagiku, hari itu berwaran hitam karena ayah baru saja meninggal dunia. Sehari setelah itu, mamanya divonis terjangkit Deman Berdarah campur tipes. Mungkin benernya adalah bahwa hari itu berwarna merah muda campur hitam yang kemudian menghasilkan warna hitam. Karena hitam begitu dominan. Saat manusia ramai bergelak tawa berkasih dan bersayang, sahabatku itu sedang bergelak tangis, berkasih dan bersayang dengan ayahnya yang kini telah almarhum. Sedihku untuknya. Dia pasti, sedikit, tidak suka hari kasih sayang dia tahun- tahun berikutnya hingga akhirnya dia jadi almarhumah juga. Mungkin.

Rasaku serasa tak sedang berada disini. Entah ada dimana dia. Yang jelas aku tak merasa punya rasa. Karenanya aku tak bisa terus cerita. Maka aku akan mencarinya. Hanya untuk satu alasan; agar aku kembali punya rasa untuk lanjutkan cerita. Selamat malam semua…

 

 

 

 

 

19:21

Saat hari sudah bernama Senin

Saat hari sudah bertanggal 16 Februari 2009

Memunguti Sisa- Sisa Api…

March 4th, 2009 by loveismisery

Mojokerto

23 Februari 2009

Pada sebuah  Senin sore yang basah dan remang…

 

 

Hari ini kami semua harus kembali pada realita. Semua harus kembali jalani hidup sendiri- sendiri. Mungkin itu bisa juga diartikan bahwa semua harus kembali meratapi apa yang kita punya. Sekaligus merintih atas apa yang belum kami miliki. Asunaro sedang meremang. Lilin nafas masing- masing anggotanya sedang tertiup angin yang datang bersama penghujan. Terusik hembusan dan hampir mati olehnya.

 

Kemarin dunia terasa begitu indah. Bukan karena kami sedang jatuh cinta. Bukan juga karena kami sedang merayakan hari jadi diri. Bukan karena hembusan berita bahagia. Yang pasti bukan karena cuaca yang bersahabat. Dunia mengindah karena kami merasa tidak sendiri. Kami merasa sama- sama sedang meremang oleh keadaan. Kami biasa terpisah dan merasai sakit secara pribadi. Namun kemarin kami merasa bisa saling berbagi kisah hingga sedih itupun terasa biasa dan tidak terlalu menyiksa rasa. Berbagi lewat tatapan hati dan resahnya suara kami yang sedang berusaha biasa dalam berbagi cerita.

 

Asunaro sedang memunguti kembali sisa- sisa nyala api yang hampir padam oleh tiupan angin musim penghujan. Kami sedang merasa kesusahan mengumpulkan kembali api yang terlanjur menguap entah kearah mana itu. Meski kami tahu takkan mudah dapati kembali api itu, tapi kami tak punya pilihan lain lagi. Pilihan kami hanyalah menghibur diri sambil meyakini api itu akan bisa dikumpulkan kembali. Api yang dulu memagari lingkaran hidup muda kami. Saat kami masih bisa hidup sambil tertawa lepas dan rasai nyamannya bermimpi. Saat kami masih bisa terus bergenggaman tangan sambil saling bersedekah kebahagiaan. Saat kami bisa berjalan tepat arah sambil memejamkan mata karena kami masih punya tali hati yang menuntun kaki. Saat kami masih belum begitu dewasa untuk temui fakta bahwa dunia ini tak hanya tertawa, bahagia, nyaman juga berjalan tepat arah.

 

Kami sekarang sedang bersahabat dengan alam yang ternyata malah mengkhianati kami dengan badai ini. Lalu kami terseret arus yang dulu pernah kami percayai untuk membawa arah hidup kami kemanapun. Dulu kami sempat menyerahkan hidup pada aliran air. Ternyata sekarang air itu tergoda arus dan angin hingga kemudian mengganti nama jadi badai hanya agar kami tetap mempercayainya. Nyatanya kami percaya hingga akhirnya kini terdampar di bagian dunia bernama kecewa. Intinya kami tertipu keadaan.

 

Aku, Pram, Mita dan Azul masih sedang memunguti beberapa pecahan harapan. Kami sedang berjuang keras dapati kembali harapan dan keberanian untuk kembali bermimpi. Kesekarangan begitu menakutkan hingga kami merasa sedikit takut jika pintu selanjutnya akan terasa begitu mengecewakan. Lalu kami merasa saling punya wajib untuk saling mengirimkan kekuatan hati. Kami bergantian merasakan hati masing- masing dari kami. Mita sempat juga kuminta merasakan hatiku yang sedang menjejali otak dengan idealisme. Dia juga memberiku ijin untuk sekedar melihat- lihat rongga hatinya yang sedang bahagia namun tersendat formalitas. Pram dan Azul juga saling melempar rasa hanya agar keduanya merasa bertukar raga juga hati. Akhirnya malam kemarin kami merasa bisa kembali bersama meskipun kami masih belum juga pasti apa sudah dapatkan kembali apa yang masih sedang hilang.

 

Pertemuan yang begitu mendewasakan. Tawa yang sempat terlempar mungkin hanya konpensasi rasa sakit yang lama mengendap. Genggaman jemari itu mungkin juga hanya upaya kami menghibur diri dan ungkapan pengganti kata “Tolong temani aku ya?!” agar tidak merasa sendiri. Lelucon yang kemarin turut serta hanya bagian dari formalitas sebuah pertemuan. Juga untuk menghindari dominasi kesedihan yang sama- sama sedang menggantung di kelopak nyawa kami. Hanya satu yang sedang sama- sama kami cari kemarin itu. Yaitu perasaan tertemani dan tidak sendiri. Ada sekilat rasa lega saat tahu ternyata tidak hanya aku yang merasa sakit. Ternyata tidak hanya aku yang merasa begitu rindui masa dulu. Ternyata bukan hanya aku yang merasa bahwa keburuntungan adalah sebuah kebutuhan primer untuk bahagia. Ternyata tidak hanya aku yang harinya sedang meremang. Mereka juga sama. Dan kami merasa bersatu kembali. Dan kami merasa begitu ingin mematikan waktu agar hari masih tetap bernama Minggu. Dan kami dalam hati mengumpat adanya kalender yang selalu saja mau dirobek dengan alasan waktu tak bisa berhenti. Yang terakhir kami masih sempat bersyukur masih saling memiliki hingga saat ini.

 

Sayangnya kami harus segera bangun dari mimpi yang memabukkan ini. Kami harus kembali meletakkan hidup kami pada tempat yang tepat. Aku disini. Mereka disekatan bumi yang lain. Yang sama, mungkin, hanya perasaan kami saja. Perasaan yang sedang meremang. Yang sama, mungkin, hanya apa yang kami lakukan saja; yaitu memunguti sisa nyala api sambil mencari cara nikmati hidup.

 

Sekarang hari sudah punya nama lain. Bukan lagi Minggu. Bukan lagi disebut hari ini. Panggilannya adalah kemarin. Dan kini hujan turun lagi. Begitu menakutkan bagi kami yang sedang mencari- cari sisa api. Hujan dan angin begitu menyulitkan kami. Menjadikan kami merasa agak tidak mungkin temukan kembali api. Tapi kami harus tetap mencari. Demi sebuah kehangatan bagi jiwa kami yang menggigil. Hati kami masih tetap saling bergenggaman erat.

 

Beberapa deret waktu yang lalu aku pernah bertanya; apa mereka semua sedang bahagia? Apa mereka semua sedang merindukan Asunaro? Apa mereka baik- baik saja? Apa mereka juga sedang menangis sepertiku disini? Apa yang mereka lakukan untuk nikmati hidup? Lama aku baru dapati jawaban dari semua tanya itu. Ternyata mereka juga sedang menangis meski aku tak pernah mampu merasakan sedalam apa rintihan tangis mereka. Bukan karena aku tak perduli tapi karena telingaku sudah terisi penuh oleh suara tangisanku sendiri. Kemudian aku juga tahu bahwa mereka juga masih sedang mencari cari cara menikmati hidupnya yang hanya bagai sekotak klise foto. Tak berwarna meski masih bisa sedikit dimengerti oleh sesama Asunaro. Ternyata, kami saling merindukan. Kami rindu genggaman tawa masa muda. Saat hidup masih begitu mudah hingga kita punya banyak waktu untuk tertawa dan iseng bikin masalah.

 

Tatapan mata kami masih begitu tajam demi lebih teliti mencari apa yang sedang kami cari. Tapi itu saja masih belum cukup. Nyatanya kami masih saja menunggu entah apa yang bisa jadi adalah sebuah bantuan untuk dapati bahagia. Dulu kami pikir bisa lebih lengkapi hidup dengan seorang belahan jiwa, namun itu tak sepenuhnya benar. Rasa lengkap itu masih perlu diperlengkap lagi. Kelengkapan itu hanya untuk beberapa helaan nafas saja. Lalu kami putuskan untuk kembali berjalan, merangkai petunjuk- petunjuk alam demi rasai bentuk kebahagiaan lain. Ironisnya kami tak pernah tahu apa sebenarnya yang bisa jadi kebahagian sejati kami. Kami terus berjalan dengan cekatan agar hujan tak bisa padamkan api kecil yang menyala setengah enggan ini. Kami menolak berhenti hanya agar segera dapati sesuatu yang kami sendiri tak mampu mendefinisi. Bisakah kami temukan sesuatu yang kami sendiri tak pernah yakin apa itu? Bisakah kami dapati sesuatu hanya dengan bekal sebuah entah? Tanpa definisi. Tanpa petunjuk lengkap juga. Lalu tiba- tiba hati kami ingin menangis bersama.

 

Jika saja kami mau sama- sama jujur, aku yakin kami takkan pernah berhenti merintih. Hati kami begitu sakit. Parahnya kami tak pernah tahu sakit apa yang sebenarnya kami rasa. Yang kami tahu hanyalah, kami merasa sedikit sehat setelah merintih dan menangis. Hanya itu penyembuhnya. Tapi terkadang kami tak punya waktu untuk bersama, hingga tak bisa menangis bersama. Lalu hasilnya kami semua masih saja merasa begitu sakit. Terpisah namun bersama- sama rasai sakit yang hampir sama rasanya dan sama persis obat penyembuhnya. Kemarin, hati kami meronta bersama- sama. Kami berpisah setelah saling mengucap terimakasih atas rasa lega yang sedikit ada karena kami bersama lagi. Ucapan lirih yang begitu tulus dari hati yang sedang merintih.

 

Semua organ tubuh dan rasaku benar- benar bekerja maksimal kemarin. Aku tidak rela melepaskan setitik petunjuk alam yang mungkin teranugrah melalui Pram, Mita dan Azul. Hatiku tak pernah lelah membagi rasa untuk mereka semua. Mereka yang juga sedang merintih lirih oleh rasa sakit dan kecewa. Ya Tuhan, aku benar- benar merasa sedikit sembuh. Terimakasih atas kebersamaan sejenak ini. Meski api itu masih belum menyala sempurna tapi hati kami sudah begitu hangat hanya dengan cara saling menatap. Apa sebenarnya sisa- sisa api itu berada di mata kami sendiri? Lalu bagaimana mungkin kami bisa dapati sisa- sisa api itu karena kami tak mungkin bisa menatap mata diri sendiri. Pantas saja kami terus mencari dan belum juga mendapati. Karena ternyata sisa- sisa api yang kami cari itu ada dimana kami tak akan mampu jangkaui. Lalu kami harus bagaimana? Mungkin jalan yang baik adalah terus bersama dan saling menatap hanya untuk dapati pantulan mata sendiri. Lalu segera memungut sisa- sisa api. Secepat mungkin. Sebelum kami terganggu oleh kedipan.

 

Kami mau bahagia kembali. Sama seperti masa muda kami. Semoga bisa…

 

Aku baru saja mendengar kata hebat; Persahabatan ada bukan karena diciptakan, bukan juga karena kesengajaan. Persahabatan dilahirkan dan ditempa oleh waktu. Maka aku baru saja menyadari bahwa Asunaro juga lahir oleh waktu. Maka sekarang, untuk pertama kalinya, aku sungguh berterimakasih banyak pada adanya waktu yang akhirnya melahirkan Asunaro buat kami. Terimakasih banyak…

 

Sebenarnya aku mau menyudahi rentetan kata ini tapi sayangnya aku masih sangat menikmati guratan ini. Aku masih butuh merintih dan mungkin saja ini adalah salah satu cara nikmati hidupku yang sewarna klise foto ini. Bingung mau menumpahkan apalagi. Alunan nada dunia sedang menggema karena hari memang masih belum terlalu menua. Tanah dan aspal masih saja becek oleh hujan lebat sore tadi. Dingin sedikit mengintip namun gerah segera menutup pintu cuaca. Jam tujuh malam kali ini hampir serupa dengan jam sepuluh malam di sebuah kota kecil yang masih pekat dengan aroma Islami. Sepi dan hanya ditutup kelambu Adzan serta pujian bagi Sang Kuasa. Begitu sedap suasana malam ini hingga aku sejenak melupakan semua rintihan yang semula ingin kumuntahkan.

 

Kulitku terasa kering. Mungkin akibat sisa- sisa sabun mandi yang melekat hebat disana. Maka aku berdiri demi menjangkau lemari berwarna coklat muda yang hanya berjarak sekitar enam puluh senti di sebelah kananku. Berhasil. Nivea Body menormalkan cuaca kulitku. Sekarang aku sudah merasa sangat nyaman. Berada disini sendiri. Dengan daftar lagu di Winamp lengkap dengan Mini Lyrics-nya. Dengan perasaan nyaman oleh cuaca. Selimut empuk warna cerah ini juga tidak lupa hangatkan kakiku. Rambutku kali ini aku biarkan tergerai agar dia juga bisa bebas rasai sedapnya malam ini. Aku mau berlaku adil buat semuanya.

 

Aku sudah puas. Sekarang aku mau mengalihkan pikir dan indra manusiawiku ke bentuk hiburan lain. Bukan karena aku bosan meneteskan embun pikiran tapi karena aku mau mempertahankan perasaan dan menghindari kebosanan. Lain kali aku pasti akan datang lagi. Karena aku sudah kecanduan suara lentik keybord laptop saat jemari menari mengunci kata didalam layar elektronik ini. Aku kecanduan merdu suara itu. Karenanya aku pasti akan kembali dengan hati. Bukan dengan formalitas ataupun bentuk- bentuk toleransi. Percayalah…

 

 

 

 

 

 

 

 

Semoga….

19:28

Hujan sore ini sangat menakutkan…

 

 

Hard Rock FM Surabaya

February 14th, 2009 by loveismisery

Mojokerto

Pada sebuah Senin

Tertanggal 19 Januari 2009

Saat udara masih beri nyaman…

Ini hari Senin keduaku disini. Itu artinya aku sudah bernafas kembali disini selama satu minggu. Dan syukurlah, aku masih belum juga berjumpa dengan kejemuan. Semuanya masih saja terasa baik karena aku juga tidak pernah berhenti merepresi penolakan hatiku. Alhasil, aku masih bahagia disini.

Udara masih saja bergerak- gerak penuh canda. Berusaha menghias pagi terang ini. Sepertinya dia berhasil.

Aku memilih lantai dua ini. Hanya dengan satu alasan, yaitu menjumpai frekuensi radio Hard Rock FM Surabaya. Hatiku pagi ini sedang memilih untuk berteman dengar dengan Ivan Arbani dan Meity Piris. Mereka terdengar begitu menghibur. Dan inilah yang aku perlukan. Hiburan!

Sayangnya radio ini terdengar begitu membosankan pasca aku tinggal mandi. Mereka membahas kartu kredit BNI yang bagiku tidak berguna. Namun tetap aku menyetiakan telingaku untuk mereka berdua. Yang aku mau adalah merasa ceria oleh suara mereka berdua. Duo gila yang lihai mencari cara menikmati hidup hingga energi itu tersalur lewat suara. Hebat memang mereka itu. Sudah sekian lama tapi tetap bisa bahagia. Aku sudah mendengarkan mereka sejak sekitar 5 tahun yang lalu. Mereka dengan kualitas yang masih sangat sama meski umur mereka enggan tetap.

Aku masih menunggu mereka menceriakan hariku kembali seperti tadi pagi dan tahun- tahun sebelum ini. Aku mau merasa bebas melalui mereka. Aku mau menitip nyawa untuk beberapa jam saja. Untuk sekedar ikut sedikit cicipi kenyamanan dan kemudahan menjadi mereka. Dimana hidup terasa begitu hectic tapi penuh dengan energi positif. Harusnya aku berterimakasih pada mereka berdua yang dengan tanpa sengaja mengiyakan semua permintaanku.

Renata Firdaus Wardhanu

February 14th, 2009 by loveismisery

Kediri

Minggu, 28 Desember 2008

Hampir jam lima sore

Sebagai Renata…

Siapakah sebenarnya aku ini? Citra, Cimada atau bahkan Renatakah? Beberapa panggilan yang membawa arti berbeda. Aku memang sedang menikmati, bahkan bisa dikatakan sangat menikmati berperan sebagai Renata. Sesosok wanita berumur masih 24 tahun dengan karir bagus, tampilan fisik yang mengecewakan jarang sekali lelaki dan yang terpenting adalah dia masih punya beberapa nyawa kebebasan untuk menikmati apa saja yang ada di harapannya pun apa saja yang ingin dia rasai karena dia punya segala yang diingini manusia.

Sampai kapan aku akan melakukan peranku sebagai Renata Firdaus Wardhanu? Mungkin aku akan segera membunuh tokoh Re. Bukan karena tokoh ini tidak lagi digemari pemirsa melainkan karena aku harus segera kembali ke dunia nyata dan menjalani peranku sebagai seorang yang terlahir dengan nama Citra Mahmudah yang jelas- jelas sudah berstatus sebagai seorang istri dari Sofie Sembiring. Namun kenyataan yang sedang aku punya sekarang masih terasa begitu berat. Aku merasa perlu sejenak melakukan relaksasi dengan cara bersembuyi dibalik renata********@yahoo.com. Aku benar- benar merasa bebas nikmati nyawa. Seakan aku benar masuk dalam nyawa Re.

Aku tak pernah tahu pasti pada siapa aku bisa berbagi lara. Semua yang kini sedang mengelilingiku masih saja nyaman pada dunia tawa mereka. Tak mungkin jika tiba- tiba aku datang dengan perasaan sembab oleh beberapa gelintir kekecewaan, sekilat kesedihan dan kekhawatiran maupun seliter air mata kesepiaan. Mereka tak mungkin bisa memahamiku karena tak sedang berada pada dunia yang sama denganku. Lalu aku memutuskan berubah menjadi khayal bernama Re.

Sebagian nuraniku berteriak lirih agar aku segera beralih tokoh, kembali menjadi Citra atau Cimada. Karena dia pikir aku sangat tidak adil terhadap suamiku. Namun aku sungguh masih belum sanggup untuk 100% hidup sebagai Citra. Aku masih belum cukup kuat menahan kesepian, kesedihan, kekecewaan, kekhawatiran maupun kegagalan ini. Aku perlu beberapa saat lagi untuk kembalikan nyawa pemberaniku.

Puncak perjalanan hidup Re adalah saat lelaki mayanya benar menujunya. Re, yang sebenarnya tidak pernah ada, harus segera mengakui dirinya sebagai Citra yang datang untuk menolong. Citra akan kemudian lahir dengan sendirinya. Entah apa yang akan terjadi…

Aku sejenak terhenti oleh sebuah telepon dari kolega hidup; mengabarkan pernikahan teman masa lalu kami. Jika dulu aku merasa dan bereaksi biasa saja saat mendengar berita pernikahan, tapi sekarang aku merasa sangat luar biasa berbahagia. Bukan karena aku merasa ikut berbahagia bagi pasangan itu namun karena aku merasa semakin banyak orang yang hidup di dunia yang sama denganku. Aku berpengharapan agar mereka kemudian akan bisa merasakan apa yang aku rasakan. Terdengar sedikit jahat memang, tapi itulah yang memang kurasakan. Sebenarnya yang aku ingini hanyalah merasa tidak sendiri karena banyak juga yang sedang merasakan apa yang sedang aku rasakan. Hingga saat aku butuh mereka mendengarku, mereka bisa menangis bersamaku sambil bersama- sama merasakan yang aku rasa.

Belakangan ini aku menyesali pernikahanku. Aku benar merasa sangat terkekang oleh status ini. Dipanggil istri lalu harus 100% bersama dengan seorang lelaki saja. Kemudian masuk pada masalah- masalah merger keluarga. Aku sama sekali tidak nyaman dengan status yang mengikatku dan merenggut paksa kebebasanku ini. Aku yakin masih ada banyak sekali petualangan yang mau aku rasai. Tapi sekarang aku harus terpaksa berhenti hingga jiwaku tak terima kebijakan ini. Aku masih ingin bersenang- senang dengan semua yang ada di luar sana. Aku masih berminat merasai berbagai macam rasa petualangan. Aku masih sangat mengharapkan kembali merasa jatuh cinta mati pada lelaki lalu aku atau dia harus patah hati karena ada sesuatu yang terjadi. Aku tidak mau merendam nyawa dirumah, keluar sesekali dengan lelaki yang sama lalu bertemu dengan keluarga besar sang suami yang sangat membuatku tak nyaman. Aku memang tak mudah masuki dunia baru dan masalahnya adalah mereka semua tak mau mengerti jadi aku merasa lebih terpaksa dan hanya beralasan formalitas dan tak ada daya menghindar. Tak ada hati sama sekali.

Dulu aku pernah berfikir dan hampir berkeputusan untuk tidak menambatkan hati pada satu lelaki. Itu karena aku tak yakin bisa setia padanya. Hatiku selalu ingin merasai hal baru yang masih belum sempat aku rasai karena kuyakin setiap lelaki akan berikan rasa berbeda dalam hatiku. Aku selalu saja ingin merasa up and down setiap saat. Jika rasa itu hilang aku akan kembali merasa kehausan dan mencari- cari cara kembali rasai jatuh cinta atau sekedar cicipi up and down-nya kehidupan. Lalu kini aku menyesal menikah diusia 24 tahun. Seharusnya aku masih harus menundanya. Masih banyak yang ingin aku dapati pun rasai.

Masalahnya bukan karena aku tidak cinta lelaki yang aku nikahi, namun aku tidak mau menyakiti siapapun karena jiwa liarku ini. Aku pasti akan menyakiti seseorang atau bahkan banyak orang jika aku masih saja menyuburkan keinginanku untuk berpetualang itu. Namun dilain pihak aku tak punya pilihan lagi karena memang petualangan itulah yang masih ingin aku rasai. Aku masih belum siap dengan semua formalitas kekeluargaan yang sekarang sedang aku hadapi. Sekali lagi bukan karena aku merasa tinggi atau apapun tapi hatiku memang masih sedang belum berarah kesitu. Dan aku bukan type yang suka dipaksakan.

Faktanya adalah aku sudah menikah sekarang. Telah setahun lebih sedikit aku memaksakan diri menyelami formalitas hidup berumah tangga. Menahan semua keinginan liar seorang lajang. Jiwa domestikku begitu resesif hingga dengan sangat mudah direpresi oleh keliaran yang sudah demikian kuat dan mendominasi. Hingga lahirlah seorang Renata Firdaus Wardhanu. Tokoh yang aku ciptakan untukku merasa sedikit bebas dan liar. Hanya sedikit saja karena aku berbatasan dengan dunia nyataku dan namaku yang sebenarnya Citra Mahmudah.

Lalu aku mulai mencari pembenaran. Apa ini yang selalu dirasakan oleh semua wanita yang sudah menikah, apalagi masih belum punya momongan yang sebenarnya adalah cuma alat pembuktian kejantanan suami, pengalihan perhatian dari kebosanan hidup dengan satu pasangan tetap, maupun media kebanggaan bagi keluarga besar? Apa benar ini yang dirasa jika wanita yang telah berumah tangga tak segera punya momongan. Jika benar maka keliaran, kebosanan dan kekecewaanku terhadap apa yang ada sekarang bisa dipastikan melemah saat aku tahu bahwa aku hamil. Tapi sebenarnya aku tak terlalu yakin. Karena aku sangat mengenal diriku sendiri. Aku benci rutinitas dan kesamaan. Aku mau selalu merasa ada yang beda dan tak mau dipaksakan. Bisa jadi aku akan menyesali dua hal; menikah diusia 24 tahun(yang bagiku masih terlalu dini) dan punya momongan.

Apa sebenarnya yang salah? Apa buku- buku dan novel- novel itu? Yang terus merombak konstruksi kenormalan otakku. Bisa jadi. Tapi banyak juga wanita , yang suka melahap buku dan novel feminisme dan penganut aliran bebas, yang masih tetap bisa normal dan menjalani semuanya dengan suka cita. Tapi siapa yang benar tahu isi hati mereka? Bisa jadi mereka sebenarnya juga merasa sama persis dengan apa yang aku rasa. Bisa jadi mereka juga menciptakan tokoh imajiner seperti halnya aku melahirkan Renata dari rahim khayalku.

Aku mau melimitasi persinggunganku dengan dunia luar yang nyata. Aku mau terus nikmati diri sebagai Re. Sampai aku tak lagi kecewa terhadap apa yang ada saat ini. Terdengar egois tapi itulah aku. Yang pasti aku juga merasa sangat merana dengan ketidakmampuanku nikmati dunia nyata. Aku lelah harus terus lari dari nyata. Kaki- kaki khayalku terasa begitu lunglai. Tapi aku masih belum berani membuka mata.

Aku merasa begitu gerah….

Udara kota ini tak begitu bersahaja…

Aku mau membasuh raga…

Agar bisa sedikit merasa nyaman dan indah…

Hampir jam enam petang…

Tanpa perasaan lega sedikitpun meski tlah habiskan ratusan kata guna nyamankan jiwa…

Baiklah…

Terimakasih pada Renata…

Maafkan aku, Citra…

Pada sebuah akhir yang mengharukan….

December 10th, 2008 by loveismisery

Kediri

Saat aku merasa sangat kehilangan…

Bernama Jum’at tertanggal 28 November 2008…

Hari akan segera berganti nama…

23.58

Akhirnya aku berakhir. Aku hilang dan akan segera mundur dari ingatan semua yang sempat ada sebagai bagianku. Hatiku rasanya ingin sekali berontak. Mengutuk perubahan yang akan segera datang. Kali ini aku lemah lagi. Merasa sedang dikuasai perasaan sakit karena akan segera hidup sebagai sebuah entah dan tidak lagi bertemu dengan rutinitas yang baru saja aku ucapi selamat berpisah. Air mata ini rasanya begitu kuat membujuk retinaku agar dia bisa bebas cicipi udara fana. Dia berhasil. Aku sedang menangis tanpa suara.

Hari ini adalah sebuah akhir yang mengharukan. Tiba- tiba saja aku harus berjabat tangan dengan beberapa orang sambil mengucap “Terimakasih banyak dan maaf atas semuanya. Selamat jalan. Good luck!”. Hatiku terasa begitu sakit mendengarnya. Jabatan tangan yang mungkin akan jadi yang terakhir. Aku bisa merasakan hangat dan eratnya persenggamaan itu. Yang terpenting aku bisa merasakan adanya perpisahan diantara kami.

Maaf, aku harus rehat sejenak demi sebuah janji dan panggilan hati untuk puaskan diri dengan kehadiran seorang maya yang datang bersama bahagia. Berbincang sambil dengan sekuat tenaga menahan hati terdengar lemah dan tidak tegar. Tetap saja, suara dan helaan nafaslah yang jauh lebih jujur dan bisa dipercaya. Dia pasti menilaiku lemah dan aku tidak rela siapapun tahu manusia seperti apa aku ini.

40 menit berlalu dengan tinggalkan cahaya terang dihatiku. Beban dan rasa kehilanganku mendadak hilang terseka suara itu. Sekali lagi aku merasai kekuatan hati yang bisa seenaknya mengubah diri dari sedih menjadi cerah. Dia begitu kuat menarikku keluar dari kelamnya hati. Terimakasih untuk seorang Aldino Wibowo.

Aku masih berteman asap dan gemeritik api menghabisi batang ini. Batang kedua hari ini. Alasannya hanya karena aku tidak mau merasa sendiri meski sebenarnya aku sedang butuh menyendiri dan melukiskan panorama hatiku yang sekarang ini bisa dikatakan sedang berwarna kelabu.

Only Human- nya One Litre Of Tears, Winter Sonata dan Sarang Han Da Myun sengaja kuundang malam ini. Mereka menghiburku dengan cara menyajikan aroma pedih sebagai menu utamanya hingga membuatku merasa sedikit berteman. Kuminta mereka menghiburku berulang- ulang sampai aku merasa kuat menggulung waktu sendiri.

Otakku tiba- tiba terbangun dari kenyamanannya. Asap yang terhirup mungkin telah membangunkannya dari segenggam kenyamanan. Berontak dengan cara mengubah posisi komposisi raganya sendiri yang tentu saja berpengaruh pada kondisi anatomiku. Tenang saja, aku bisa bertahan setidaknya sampai kemudian aku memutuskan untuk mencumbui batang ketiga.

Sekarang hatiku sedikit nyaman, mataku tidak lagi bertirta dan ingatanku tentang apa yang tadi sengaja terjadi sudah sedikit meluntur oleh bilasan waktu dan gumpalan asap itu.

Hari sudah berganti nama pun berganti nomor punggung. Semoga hari ini semua bisa baik- baik saja.

Mulai sekarang aku harus jalani kebiasaan baru…

Tidak mudah bagiku tapi aku sudah tidak bisa lagi melangkah mundur…

Saat detak jarum jam saja yang hinggapi indra manusiaku…

01.48

hatiku sudah agak tenang…

December 3rd, 2008 by loveismisery

Masih di Kediri

Masih tertanggal 2 Desember 2008

Pun hari masih bernama Selasa

Saat hati masih berkelambu muram…

18.33

Ragaku kini terasa jauh lebih nyaman. Jernih air telah mengusung kejernihan pula pada nyawaku yang hari ini terasa begitu muram. Sunsilk soft & smooth juga telah tunjukkan perannya sebagai pembersih sekaligus penyegar ingatanku yang beberapa saat yang lalu terasa begitu pekat. Belum puas aku bersihkan diri dari kemuraman, kubujuk Lux itu untuk senggamai diriku agar sejenak aku merasa berganti nyawa oleh aroma khasnya. Nivea Oil Regulating itupun berusaha menghiburku hanya untuk dapati beberapa kata terima kasih karena telah membantu. Ucapan itulah yang juga ingin didapati Pepsodent Herbalhingga akhirnya dia juga berjanji akan melakukan apapun hanya untuk sebuah “terima kasih”. Baiklah, terima kasih untuk semua.

Ingatanku terasa kembali kosong setelah sekian lama aku mengurung raga dan memasung nyawa dalam sebuah ruangan tertutup itu. Guyuran air itu membuatku merasa kuat karena tirta mata yang ada langsung terhapus olehnya.Aku sempat harus berjuang kalahkan phobia ini. Ruang basah itu terasa semakin menciut oleh emosiku yang kala itu sedang tertahan. Aku tidak rela dianggap sebagai fana tidak bermoral hanya karena kurang mampu (atau bahkan tidak mampu) kendalikan emosi pribadi. Aku sedang tidak mau berkata- kata karena sedang sangat berminat cumbui tirta ini.

Saat malam perlahan mengetuk, aku menikmati ketukan itu sambil terus berharap ketukan itu jadi lebih nyaring. Udara yang semakin melunak seakan menguji kekuatanku untuk tetap berada disini tanpa harus kembali bercinta dengannya seperti malam- malam sebelumnya. Karena nyatanya aku begitu mencintai malam, juga hujan.

Seruan sang muadzin itu kemudian mengingatkanku pada sebuah bulan penuh barokah. Saat aku harus segera mempersiapkan diri menunaikan ibadah sunnah muakkad itu. Ramadhan yang indah.

Belakangan ini aku merasa punya rutinitas baru, yaitu merekam hari dalam kata agar tak mudah terlupa oleh masa.

Kini Adzan sedang berkumandang disini. Dalam layar bercahaya ini, lalu kemudian masuk dengan sopan dalam pintu hatiku. Terasa begitu sejuk dan menyejukkan. Entah apa yang sebenarnya sedang aku rindukan. Aku juga belum tahu pasti apa yang sebenarnya sedang aku takutkan karena sebenarnya sekarang aku sedang berada pada ketakutan itu. Apalagi yang lebih menakutkan dari sebuah kesendirian dan kesepian seperti yang sedang aku rasa.

Kini aku tahu makna ketulusan cinta. Aku bisa dengan sangat jelas melihat jernihnya cinta dimata seorang Sofie Sembiring. Cinta yang disertai dengan kekhawatiran atas apa yang sekarang ini aku rasa. Hukuman terbesar atas semua kecerobohanku ini adalah rasa khawatir yang tidak seharusnya dia punyai untuk seorang manusia tak berasa sepertiku. Selama ini aku merasa bisa lalui apa saja sendiri, namun kini aku menyerah lalu mengaku kalah. Aku tidak pernah merasa cinta dan sayang sedalam itu sebelumnya. Aku merasa tertampar begitu keras.

Aku sedang tidak mampu mengendalikan rasaku. Tiba- tiba aku merasa sangat sendiri. Lalu tidak lama aku merasa semua akan baik- baik saja. Kemudian aku merasa begitu nyaman dengan hilangnya rutinitas itu.

Aku butuh banyak kata sebagai ungkapan lemahku. Sebagai bagian keluhanku. Sebagai teman lalui masa sulit. Juga sebagai karib kala harus melaju menjemput masa.

Aku mau merokok lagi.

Berusaha melegakan hati dengan cara melukai organ tubuh lainnya.

Tumben, burung- burung itu masih saja berkicau nyatakan diri.

19.09

Merasa sangat tidak berguna…

December 3rd, 2008 by loveismisery

Kediri

2 Desember 2008

Pada sebuah Selasa siang yang (seperti biasa) terasa begitu gerah

Hari ini adalah hari keduaku pada status baru ini. Terasa begitu membosankan. Tidak ada lagi yang bernama rutinitas karena semua bisa dilakukan kapan saja tanpa jadwal pasti. Aku sebenarnya tidak keberatan dengan status dan hilangnya rutinitas itu. Aku hanya merasa miris kala mengingat betapa tidak bergunanya aku sekarang ini. Tidak melakukan apapun demi orang lain. Batinku begitu sakit menyadari keberadaanku disini.

Masalahnya bukan karena aku merasa ingin dan seharusnya kembali ketempat semula. Sungguh bukan itu! Kalaupun aku kembali ditanya tentang kemauanku, aku tidak akan menjawab aku mau kembali kesana. Aku tidak terlalu berminat kembali pada sesuatu yang dulu pernah kurasai. Ada banyak kecewa disana.

Masalahnya adalah perasaan tidak berguna ini. Itu saja. Terus berada dirumah sama halnya dengan memperkuat kenyataan bahwa tidak ada seorangpun membutuhkanku hingga aku akhirnya terpaksa memilih untuk tetap tinggal. Penghiburanku sekarang adalah melewatkan malam berada entah dimana, yang jelas diluar rumah. Dengan begitu aku merasa biasa. Aku merasa tidak ada yang berbeda karena disaat aku masih punya rutinitas dulu aku juga meluangkan waktu untuk bersenang- senang di malam hari. Terasa tidak ada yang beda meski sebenarnya semua tidak lagi sama.

Aku khawatir otakku berhenti bekerja maksimal karena terlalu lama tinggali kenyamanannya tanpa harus dipaksa untuk menjadi lebih produktif lagi. Aku juga tidak mau ragaku terus menjadi lunglai karena merasa tidak perlu harus melakukan sesuatu. Bathinku sudah jelas merasa malu. Ditambah lagi dengan dugaan bahwa kolegaku akan perlahan namun pasti segera menghapus aku dari ingatannya karena tertimbun oleh ingatan lainnya. Tetap saja aku tidak mau kembali.

Mungkin aku adalah manekin bumi yang lengkap dengan kostum idealis dan aksesoris keras kepala. Merasa selalu yakin akan dikagumi untuk kemudian dibeli dan dinikmati pembeli. Beberapa penggal nafasku memang begitu keras. Aku masih merasa begitu yakin untuk bisa segera dapati kebahagiaan jenis lain. Semua pasti ada saatnya. Lalu kini aku mendoa agar aku segera dipertemukan dengan saat itu agar aku tidak lagi merasa tersingkir dari percaturan bumi ini.

Aku masih juga disini melukiskan apa yang dilukiskan hatiku. Jemariku semakin lincah berdendang diatas keyboard karena hanya ini yang aku harapkan bisa jadikan aku sedikit lebih berguna.

Tidak sedikit orang mempertanyakan keberanianku (atau bisa juga disebut kenekatanku) untuk memutuskan keluar dari zona aman. Sebuah keputusan yang mungkin jarang terlintas dibenak para fana lain. Butuh keberanian super untuk memutuskan menapaki jalan gelap lagi setelah selama beberapa penggal waktu berada di jalur bebas hambatan.

Aku kembali menjadi begitu lemah. Terus saja merasa ingin ungkapkan rasa lewat airmata. Aku takut terjebak dalam idealismeku sendiri. Takut kalau aku tidak lagi mampu bangkit membangun istana bahagia. Aku kuatir kalau aku tidak lagi punya keberanian untuk menjalani resiko dan membuka jalan bagi cahaya bahagiaku.

Sejatinya aku sedang mempunyai banyak sekali pilihan yang masing- masing diantaranya akan membawaku pada akhir yang berbeda. Entah menjadi lebih baik, lebih buruk dulu untuk kemudian mata awasku merasa perlu harus bekerja lebih keras lagi untuk capai baik, atau selamanya berada dalam tidak baik. Terlalu banyak pilihan itulah yang membuatku melemah, sisi Geminiku mendominasi hingga aku kehilangan keberanian untuk yakin pada satu jalan untuk kemudian terus melaju sampai dapati akhir.

Raga dan hatiku melemah dan merasa sangat perlu dihibur sesuatu. Seingatku aku belum pernah merasa selemah ini. Meski dulu aku pernah jalan terseok tapi keyakinanku capai titik puncak. Tapi kini rasanya keyakinan dan jiwaku sedang sama- sama melemah. Takut menarik keputusan lanjutan.

Aku harus bagaimana? Aku tidak mau lemah. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan siapapun. Mulai sekarang aku akan tentukan arah lagi. Aku tidak lagi mau perduli terhadap arah angin yang mungkin akan mengganggu langkah kakiku. Sekuat apapun angin membawaku kembali, aku masih tetap bisa melangkah maju. Bedanya hanya pada jarak tiap langkah kaki ini, tidak akan terlalu jauh, namun tetap saja namanya adalah melangkah.

Aku mau merasai semua yang memang aku maui. Bukan atas dasar ilmu yang kugenggami karena kutahu hal itu tidak terlalu nyaman. Aku harus mendobrak pintu untuk bisa keluar dari konvensi dan pikiran orang lain. Aku tidak lagi mau perduli. Biarlah aku dianggap remeh. Aku hanya mau merasai bahagia versiku sendiri. Itu saja. Aku sudah memutuskan untuk lebih kuat. Hari ini aku menunaikan niat. Belum juga tahu kapan jadikan niat itu sebagai nyata. Aku tidak mau lagi merasa tidak berguna. Aku harus segera bergerak tembus konvensi. Cari bahagia dan bebaskan jiwa. Aku sudah memutuskan keluar secara baik- baik dari dunia formalitas. Aku harus konsisten. Tidak ada lagi penyesalan pun keinginan untuk kembali. Harus membuat jalan sendiri.

Aku mau undur diri dari rasa sepi. Berpamitan baik- baik dari rasa tidak berguna. Aku mau segera masuki dunia tanpa nama yang bisa sajikan bahagia untuk seorang fana sepertiku. Kini aku siap. Segera mulai rasai nyawa baru.

Nyatanya aku masih juga merasa tak berguna…

Karena aku masih disini sambil berusaha mencari cara luapkan rasa…

Harusnya aku lakukan sesuatu untuk orang lain…

Agar jiwa dan ragaku merasa dibutuhkan…

Aku merasa lega hanya saat terlelap meski tidak mudah untuk mengatupkan mata saat otak sedang berontak. Aku mau terus pulas agar semuanya terasa baik- baik saja.

Kipas angin itu terus berusaha menghiburku…

Aroma sedap malam ini memang kukagumi…

Sekian untuk saat ini…

16.11

Saat aku merasa sangat kehilangan karena hari akan segera berganti nama…

November 29th, 2008 by loveismisery

Kediri

Saat aku merasa sangat kehilangan…

Bernama Jum’at tertanggal 28 November 2008…

Hari akan segera berganti nama…

23.58

Akhirnya aku berakhir. Aku hilang dan akan segera mundur dari ingatan semua yang sempat ada sebagai bagianku. Hatiku rasanya ingin sekali berontak. Mengutuk perubahan yang akan segera datang. Kali ini aku lemah lagi. Merasa sedang dikuasai perasaan sakit karena akan segera hidup sebagai sebuah entah dan tidak lagi bertemu dengan rutinitas yang baru saja aku ucapi selamat berpisah. Air mata ini rasanya begitu kuat membujuk retinaku agar dia bisa bebas cicipi udara fana. Dia berhasil. Aku sedang menangis tanpa suara.

Hari ini adalah sebuah akhir yang mengharukan. Tiba- tiba saja aku harus berjabat tangan dengan beberapa orang sambil mengucap “Terimakasih banyak dan maaf atas semuanya. Selamat jalan. Good luck!”. Hatiku terasa begitu sakit mendengarnya. Jabatan tangan yang mungkin akan jadi yang terakhir. Aku bisa merasakan hangat dan eratnya persenggamaan itu. Yang terpenting aku bisa merasakan adanya perpisahan diantara kami.

Maaf, aku harus rehat sejenak demi sebuah janji dan panggilan hati untuk puaskan diri dengan kehadiran seorang maya yang datang bersama bahagia. Berbincang sambil dengan sekuat tenaga menahan hati terdengar lemah dan tidak tegar. Tetap saja, suara dan helaan nafaslah yang jauh lebih jujur dan bisa dipercaya. Dia pasti menilaiku lemah dan aku tidak rela siapapun tahu manusia seperti apa aku ini.

40 menit berlalu dengan tinggalkan cahaya terang dihatiku. Beban dan rasa kehilanganku mendadak hilang terseka suara itu. Sekali lagi aku merasai kekuatan hati yang bisa seenaknya mengubah diri dari sedih menjadi cerah. Dia begitu kuat menarikku keluar dari kelamnya hati. Terimakasih untuk seorang Aldino Wibowo.

Aku masih berteman asap dan gemeritik api menghabisi batang ini. Batang kedua hari ini. Alasannya hanya karena aku tidak mau merasa sendiri meski sebenarnya aku sedang butuh menyendiri dan melukiskan panorama hatiku yang sekarang ini bisa dikatakan sedang berwarna kelabu.

Only Human- nya One Litre Of Tears, Winter Sonata dan Sarang Han Da Myun sengaja kuundang malam ini. Mereka menghiburku dengan cara menyajikan aroma pedih sebagai menu utamanya hingga membuatku merasa sedikit berteman. Kuminta mereka menghiburku berulang- ulang sampai aku merasa kuat menggulung waktu sendiri.

Otakku tiba- tiba terbangun dari kenyamanannya. Asap yang terhirup mungkin telah membangunkannya dari segenggam kenyamanan. Berontak dengan cara mengubah posisi komposisi raganya sendiri yang tentu saja berpengaruh pada kondisi anatomiku. Tenang saja, aku bisa bertahan setidaknya sampai kemudian aku memutuskan untuk mencumbui batang ketiga.

Sekarang hatiku sedikit nyaman, mataku tidak lagi bertirta dan ingatanku tentang apa yang tadi sengaja terjadi sudah sedikit meluntur oleh bilasan waktu dan gumpalan asap itu.

Hari sudah berganti nama pun berganti nomor punggung. Semoga hari ini semua bisa baik- baik saja.

Mulai sekarang aku harus jalani kebiasaan baru…

Tidak mudah bagiku tapi aku sudah tidak bisa lagi melangkah mundur…

Saat detak jarum jam saja yang hinggapi indra manusiaku…

01.48